Hukum Tidak Tertulis
Jika dua orang sampai bersentuhan satu sama lain, tak dapat diragukan, mereka mempunyai kesamaan. Bagaimana burung akan terbang kalau tidak dengan sesamanya? (Jalaluddin Rumi)
Siapa nyana, di dunia ini ada hukum-hukum yang tidak tertulis, yang (sialnya) terlanjur beranjak menjelma stereotype pada banyak orang. Hukum tidak tertulis memang tidak pernah ditorehkan, apalagi dicanangkan secara legal formal. Namun ironisnya dengan mudah dijadikan rujukan bagi sebagian orang dalam membangun image pada jenis kelamin tertentu.
Dulu terkadang aku kerap berkelakar bahwa ada hukum tidak tertulis bahwa laki-laki wajib bisa main gitar. Entah dari mana asalnya, tapi lelaki yang tidak bisa main gitar adalah satu hal paling menggelikan yang pernah ada di bumi ini. Namanya juga kelakar, sudah barang tentu kelakar itu tidak mendasar dan tidak berkorelasi sama sekali dengan hal apa pun.
Sudah barang tentu, kawan-kawan perempuanku yang kekasih atau suaminya tak bisa menggemulaikan jemarinya pada dawai gitar meradang tak terima. Mereka berprotes bahwa lelaki yang tak bisa main gitar bukanlah suatu aib dalam kehidupan. Itu bisa dimengerti, karena memang tak ada perjanjian baik lisan maupun tulisan antara lelaki dan gitar. Keduanya tetap makhluk yang berbeda.
Itu pun terjadi pada perspektif lelaki dan bola. Apakah betul bahwa lelaki identik dengan sepak bola? Apakah semua lelaki mutlak bisa main bola atau harus gila bola? Apa boleh buat: tak ada kesepakatan antara lelaki dengan sepak bola.
Continue Reading »

