Hukum Tidak Tertulis

Jika dua orang sampai bersentuhan satu sama lain, tak dapat diragukan, mereka mempunyai kesamaan. Bagaimana burung akan terbang kalau tidak dengan sesamanya? (Jalaluddin Rumi)

Siapa nyana, di dunia ini ada hukum-hukum yang tidak tertulis, yang (sialnya) terlanjur beranjak menjelma stereotype pada banyak orang. Hukum tidak tertulis memang tidak pernah ditorehkan, apalagi dicanangkan secara legal formal. Namun ironisnya dengan mudah dijadikan rujukan bagi sebagian orang dalam membangun image pada jenis kelamin tertentu.

Dulu terkadang aku kerap berkelakar bahwa ada hukum tidak tertulis bahwa laki-laki wajib bisa main gitar. Entah dari mana asalnya, tapi lelaki yang tidak bisa main gitar adalah satu hal paling menggelikan yang pernah ada di bumi ini. Namanya juga kelakar, sudah barang tentu kelakar itu tidak mendasar dan tidak berkorelasi sama sekali dengan hal apa pun.

Sudah barang tentu, kawan-kawan perempuanku yang kekasih atau suaminya tak bisa menggemulaikan jemarinya pada dawai gitar meradang tak terima. Mereka berprotes bahwa lelaki yang tak bisa main gitar bukanlah suatu aib dalam kehidupan. Itu bisa dimengerti, karena memang tak ada perjanjian baik lisan maupun tulisan antara lelaki dan gitar. Keduanya tetap makhluk yang berbeda.

Itu pun terjadi pada perspektif lelaki dan bola. Apakah betul bahwa lelaki identik dengan sepak bola? Apakah semua lelaki mutlak bisa main bola atau harus gila bola? Apa boleh buat: tak ada kesepakatan antara lelaki dengan sepak bola.
Continue Reading »

Setangkai Bendera

Sejatinya tulisan ini adalah merupakan komentarku terhadap sebuah tulisan di mana pemilk blog-nya telah bertandang ke blog-ku dan meninggalkan komentar. Saat berbalas beranjang ke sana dan hendak meninggalkan komentar pula, rupanya aku mendapatkan kesulitan untuk login di tempanya. Sejak pertengahan Oktober hingga saat ini, masih juga belum bisa. Daripada tidak memberikan respon, ada baiknya tulisan tersebut ku-posting di blog sendiri dengan memberikan tautan terhadapnya.

Maka beginilah tulisan yang sejatinya merupakan komentar itu:

Membaca tulisan ini, aku jadi teringat saat SD dulu.

Waktu itu Presiden Soeharto hendak ke Bandung. Salah satu jalan yang hendak dilewati adalah Jalan Merdeka, persis melewati SD-ku. SD Banjarsari.

Guru-guru di sekolah mengharuskan anak-anak membuat bendera kecil di rumah, agar besok saat rombongan presiden lewat, kami diminta berbaris di trotoar depan pagar sekolah, dan melambai-lambaikan bendera menyambut rombongan presiden.

Continue Reading »

Rahasia Cintamani

maka dinamakan apa semua ini
apakah masih punya sisa ruang untuk cinta?
sementara ratusan ensiklopedi dan kamus
tak pernah mampu mengurai serta mendefinisikan tentang siapa kita

sudah puluhan purnama dan musim kita kunyah berdua
sembunyi dan saling tipu dari dunia sesungguhnya
toh tak pernah cukup kuat membuat kita pintar untuk
menentukan arah tujuan bersama

sementara kau tau, aku selalu terlunta mengais kata-kata
mengabu dan diterpa angin utara
sementara melupakan adalah satu seni tersendiri
yang tak setiap manusia mampu melakukannya

dan malam ini hujan tumpah tanpa permisi
menggalak membanjiri palung semesta
padahal kita bisa sepayung berdua
merencanakan berteduh di mana

mengapa kau melulu sibuk memberi judul dari semua kertas perjalanan ini
padahal Yang Maha Membolak-balikan Hati
bisa sangat berkuasa atas manusia
mestikah kita menghabiskan waktu untuk bertema?

hujan masih membadai di luar
lebih baik kemasi pakaian, angkat sauh, dan tentukan koordinat

Continue Reading »

Antara Bekerja dan Pernikahan

Jenius adalah satu persen inspirasi dan sembilan puluh sembilan persen keringat. Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras. Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan. (Thomas Alfa Edison)

Dulu, dahulu kala, rasanya aku terlampau keras dalam bersikap. Lamaran pekerjaan yang masuk ke meja kerja, jika statusnya sudah menikah, sudah dengan cepat kusingkirkan. Pikiran negatifku selalu mengatakan: akan mengganggu keleluasaan bekerja! Entah itu laki-laki atau perempuan.

Apa boleh buat, ini semata berangkat dari pengalaman bahwa orang yang sudah menikah rata-rata memiliki keterbatasan waktu karena ada keluarga di rumah. Entah itu mesti pulang cepat, anak tiba-tiba sakit, menemani suami ke dokter, istri sudah terus-terusan menelpon, atau dia sendiri jadi mudah sakit (karena mungkin enak kalau sakit ada yang memanjakan).

Tapi di sisi lain aku kerap terkagum-kagum pada invidivu yang tetap kobar dalam bekerja sementara ia sudah lagi menikah.
“Istrimu nggak pa-pa?” sering aku bertanya seperti itu pada lay outer yang lembur.
“Ouw, dia sudah tau betul bagaimana saya, Pak.”
Atau,
“Suamimu nggak masalah kamu sampai selarut ini?” tanyaku pada seorang editor.
“Oh, itu kenapa dia menikahi saya, Pak.”
Great!

Namun lama-kelamaan sikapmu mulai lebih melunak terhadap hal-hal seperti itu. Apa boleh buat, orang (orang lain) memang mesti menikah dan memiliki keluarga. Sehingga hal-hal seperti itu tak bisa dihindari. Meski kalau diperhatikan, banyak juga perusahaan yang pada awalnya masih menetapkan status lajang tatkala penerimaan karyaawan.

Continue Reading »

Mayat Hidup

Gairah kerja adalah pertanda daya hidup; dan selama orang tidak suka bekerja sebenarnya ia sedang berjabatan tangan dengan maut (Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca, hal. 460)

Sebetulnya ia sudah mati sejak tahun 2005. Hanya keajaiban semata yang membuatnya masih tampak hidup. Paling tidak: terkesan hidup. Padahal sejatinya, ia sudah lagi mati tak bernyawa. Tak berhasrat. Mati dan tak punya inisiatif lagi.

Apa mau dikata, manusia terkadang kerap tak menyadari bahwa dirinya masih lagi bernafas di tengah ladang kehidupan atau sudah mengabu diterbangkan angin selatan. Tak banyak orang yang menyadari hal itu.

Ada yang begitu merasa hidup. Bangun pagi dengan bersenang hati, dan dengan kobar melantangkan semangat: “Hei dunia, ini aku!”. Di sisi lain, ada yang merasa masih hidup, padahal sudah mati sejak beberapa tahun silam. Mati rasa, mati daya. Sisanya adalah jalan tengah. Jalan di mana orang-orang yang lalu lalang di sana menyadari betul untuk apa mereka hidup dan suatu saat ia pun bakal mati.

Namun begitulah ia kerap kulihat di teras masjid setiap sehabis sholat siang. Ia selalu termenung di sana. Berangin-angin sesudah jam makan. Yang membuatku terkadang berpikir: apa yang ia pikirkan. Jadinya aku dan dia sama-sama berpikir. Sialan!

Continue Reading »

Bertambah Usia atau Berkurang Umur?

Ketika kita menjadi tua, waktu akan membuat kita dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai kita, sebagai ganti dari orang-orang yang kita cintai. (J. Petit Senn)

Apakah kalian selalu mengucapkan ulang tahun pada seorang teman? Pada sahabat? Saudara? Atau mantan pacar, barangkali? Kalau iya, apa tujuannya? Membuatnya merasa senang? Agar ia tahu bahwa betapa kita mengingat keberadaannya? Atau adakah cukup diingat dalam hati saja? Aih, tentu saja kalian punya seribu ragam versi jawaban sebagai pengejawantahan perasaan.

19 Oktober ini ada yang berkurang lagi umurnya. Berkurang dari apa? Tentu saja dari jatah yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Berapa yang sudah ditetapkan oleh Tuhan itu? Tak seorang pun tahu. Bahkan orang yang lahir pada 19 Oktober itu pun sama sekali tak mengetahuinya.

Tapi, sebetulnya mana yang lebih tepat: berulang tahun? Bertambah usia? Atau berkurang umur? Adakah padanan yang lain? Atau sebetulnya bagaimana definisi setepatnya? Ah, kok aku jadi banyak bertanya. Lupakan.

Continue Reading »

Sudah Sebegitu Miskinkah Negeri Ini?

Sulitkah menjawab pertanyaan judul di atas? Rasanya makin absurd saja. Di satu sisi kemiskinan nyata-nyata di depan mata. Untuk sebagian orang mendapatkan uang Rp10 ribu sehari bisa jadi sulitnya minta ampun. Tapi bagi anggota legislatif, juga eksekutif, yang gajinya puluhan juta sebulan (gaji saja!), mengeluarkan uang Rp10 ribu barangkali sembari tertawa saja.

Pagi ini aku mesti terhenyak ketika membuka Kompas edisi Sabtu 18 Oktober 2008. Di halaman 23 terpampang sebuah foto berita tentang ojek sepeda. Yang membuat terhenyak adalah apa yang tertulis di caption foto tersebut:

Seorang pengojek sepeda di Pasar Raya Padang mendorong kendaraannya karena muatan terlalu berat, Jum’at (17/10). Ia hanya mendapat upah Rp1.000. Sementara itu, kehilangan atau kerusakan barang selama pengangkutan menjadi tanggung jawab pengojek. Ikan teri dalam plastik yang sedang ia angkut itu harganya Rp600.000.

Wow!! Seribu perak untuk jasa angkut seperti itu! Memang di caption itu tidak disebutkan jarak angkutnya. Namun jika mengingat tenaga yang dikeluarkan serta risiko pengangkutan yang mesti menjadi tanggung jawabnya, rasanya gila juga.

Continue Reading »

« Previous PageNext Page »